0 0 Read Time:2 Minute, 8 Second Amerika Serikat – Pertumbuhan bisnis pusat data AI ternyata tidak hanya menguntungkan perusahaan chip dan teknologi. Dampaknya mulai merembet ke industri yang jauh lebih tradisional, mulai dari produsen generator hingga sistem penyimpanan energi. Pembangunan pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar dan pasokan daya yang tetap tersedia ketika jaringan mengalami gangguan. Kondisi tersebut menciptakan lonjakan permintaan terhadap generator, turbin, baterai, dan perangkat distribusi listrik. Caterpillar Investasi US$725 Juta Salah satu penerima manfaatnya adalah Caterpillar. Perusahaan tersebut menginvestasikan sekitar US$725 juta untuk memperluas produksi generator di fasilitas Indiana. Bisnis generator bahkan berkembang menjadi sumber keuntungan utama perusahaan seiring meningkatnya kebutuhan pusat data. Caterpillar juga mengubah fasilitas lain di Kansas untuk memproduksi mesin turbin yang banyak digunakan oleh pusat data. Bahkan generator berkapasitas 10 megawatt yang terakhir diproduksi pada 2022 kembali masuk jalur produksi. Cummins Ikut Mengejar Ledakan Data Center Cummins juga melihat peluang besar. Perusahaan memproyeksikan penjualan yang berhubungan dengan pusat data dapat meningkat sekitar 80% hingga 2030, dengan investasi sekitar US$650 juta selama dua tahun untuk meningkatkan kapasitasnya. Artinya, setiap pembangunan fasilitas komputasi AI baru dapat menciptakan permintaan bisnis jauh di luar sektor teknologi. Ford Mengalihkan Teknologi Baterai Ada kejutan lain dari Ford. Ketika permintaan kendaraan listrik menghadapi tekanan, Ford mulai mengarahkan sebagian kemampuan produksi baterainya menuju penyimpanan energi pusat data melalui Ford Energy. Baterai skala besar dapat membantu pusat data menyimpan energi sekaligus menjaga kestabilan pasokan listrik. Dengan demikian, teknologi yang sebelumnya dikembangkan terutama untuk kendaraan listrik menemukan pasar baru karena pertumbuhan AI. Eaton Sudah Investasi US$13 Miliar Produsen perangkat listrik Eaton juga menjadi pemain penting dalam tren tersebut. Sejak 2025, perusahaan dilaporkan telah melakukan investasi sekitar US$13 miliar, sementara pusat data kini menyumbang sekitar 21% penjualannya. Angka tersebut memperlihatkan besarnya rantai ekonomi yang terbentuk di belakang infrastruktur AI. AI Ternyata Membutuhkan Mesin Raksasa Ketika orang membicarakan AI, perhatian biasanya tertuju pada GPU, robot, aplikasi atau chatbot. Namun di balik semuanya terdapat infrastruktur fisik. Ribuan server membutuhkan listrik, pendinginan, transformator, generator cadangan, baterai serta jaringan distribusi energi. Karena itulah ledakan AI justru menciptakan peluang bagi perusahaan industri yang sudah berdiri jauh sebelum era internet. Ada Risiko Investasi Berlebihan Meski pertumbuhannya besar, perusahaan tetap menghadapi risiko. Ekonom memperingatkan kemungkinan overinvestment apabila pembangunan pusat data berkembang lebih cepat daripada permintaan sebenarnya atau teknologi komputasi masa depan menjadi jauh lebih hemat energi. Untuk saat ini, permintaannya masih cukup kuat untuk mendorong perusahaan menggelontorkan investasi ratusan juta hingga miliaran dolar. Fenomena tersebut memperlihatkan sisi bisnis AI yang jarang terlihat: perlombaan kecerdasan buatan ternyata juga menjadi perlombaan membangun pembangkit daya, generator, baterai dan infrastruktur listrik raksasa. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Larry Jackson [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Valuasi Shein Anjlok Puluhan Miliar Dolar, Raksasa Fast Fashion Bersiap IPO Hong Kong