0 0 Read Time:3 Minute, 59 Second Jakarta kembali menyiapkan agenda seni rupa yang mengangkat sejarah dan perkembangan kebudayaan ibu kota. Pameran seni Ali Sadikin bertajuk 100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta akan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 20 November hingga 10 Desember 2026 di Selasar Nashar dan Paviliun Raden Saleh. Sebanyak 35 seniman dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta akan ambil bagian dalam agenda tersebut. Pameran ini tidak sekadar menjadi ruang untuk mengenang sosok Ali Sadikin. Para seniman juga diajak melihat kembali perjalanan pembangunan Jakarta sekaligus membayangkan masa depan kota sebagai pusat seni dan kebudayaan. Mengingat Ali Sadikin Lewat Bahasa Seni Ali Sadikin dikenal sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977. Pada masa kepemimpinannya, seni dan kebudayaan ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya juga menegaskan bahwa warisan Ali Sadikin tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Penguatan ekosistem seni, budaya, dan ruang publik menjadi salah satu peninggalan yang terus dirasakan hingga sekarang. Karena itu, pameran seni Ali Sadikin menjadi menarik karena sejarah tersebut tidak hanya disampaikan melalui dokumen. Para perupa menerjemahkannya kembali melalui karya visual dengan perspektif yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini. 35 Seniman dari Tiga Kota Pameran ini mempertemukan 35 perupa dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Karya mereka akan mengangkat berbagai persoalan sejarah pembangunan Jakarta pada masa Ali Sadikin. Kurator Syakieb Sungkar dan Hairus Salim dipercaya menangani pameran tersebut. Pemilihan seniman dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan mereka dalam mengolah tema sejarah dan pembangunan melalui pendekatan seni yang realistis maupun karikaturis. Dengan latar belakang seniman yang beragam, pameran diharapkan tidak menghasilkan satu sudut pandang tunggal. Sebaliknya, pengunjung dapat melihat bagaimana sejarah Jakarta dibaca kembali melalui pengalaman dan bahasa visual masing-masing perupa. Dari Arsip Sejarah Menjadi Karya Kontemporer Salah satu kekuatan utama pameran ini adalah penggunaan arsip sejarah sebagai pijakan penciptaan karya. Para seniman akan menafsirkan dinamika pembangunan Jakarta pada era Ali Sadikin melalui karya seni. Pendekatan tersebut membuat arsip tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi bahan dialog dengan kondisi Jakarta saat ini. Konsep tersebut juga sejalan dengan rangkaian peringatan satu abad Ali Sadikin yang sebelumnya menghadirkan pameran arsip di TIM. Dalam kegiatan tersebut, sejarah kebijakan kebudayaan Ali Sadikin dibahas melalui berbagai dokumen dan arsip seni. TIM Kembali Didorong Jadi Rumah Seniman Selain mengangkat sejarah, pameran seni Ali Sadikin juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem seni di Taman Ismail Marzuki. Pengelola TIM menilai kawasan tersebut bukan hanya tempat pertunjukan. TIM juga diarahkan menjadi ruang untuk bertemu, berdiskusi, bertukar gagasan, dan membangun jaringan antara seniman dari berbagai daerah hingga mancanegara. Kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS) ikut mendukung arah tersebut. Fasilitas itu dirancang agar seniman yang datang dari luar Jakarta maupun luar negeri memiliki ruang yang mendukung aktivitas mereka selama berkegiatan di kawasan TIM. Dengan demikian, pameran tidak berdiri sendiri. Agenda seni tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ruang kreatif yang lebih terbuka dan terintegrasi. Membayangkan Jakarta sebagai Kota Seni Judul Memoria dan Utopia Jakarta membawa dua gagasan sekaligus. Memoria mengajak publik melihat kembali ingatan tentang Jakarta, sedangkan utopia membuka ruang untuk membayangkan masa depan kota. Pendekatan tersebut membuat pameran memiliki relevansi dengan kondisi Jakarta saat ini. Kota tidak hanya dilihat melalui gedung, jalan, dan infrastruktur, tetapi juga melalui manusia, budaya, sejarah, dan kreativitas yang membentuk identitasnya. Pemprov DKI Jakarta sendiri menyebut kebudayaan sebagai bagian penting dalam membangun Jakarta sebagai kota global yang modern sekaligus tetap memiliki karakter. Seni Rupa Jadi Jembatan Generasi Pameran ini juga memiliki nilai penting bagi generasi muda. Sejarah Ali Sadikin dapat diperkenalkan bukan hanya melalui buku atau arsip, tetapi melalui karya seni yang lebih visual dan mudah menjadi bahan percakapan. Generasi muda dapat melihat bagaimana kebijakan masa lalu ikut membentuk ruang seni yang masih digunakan hingga sekarang. TIM menjadi contoh nyata bagaimana sebuah ruang kebudayaan dapat bertahan dan terus berkembang melewati perubahan zaman. Karena itu, pameran seni Ali Sadikin dapat menjadi titik temu antara sejarah, seni rupa, dan masa depan Jakarta. Pameran Gratis untuk Publik Pameran 100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta dijadwalkan terbuka untuk masyarakat secara gratis. Agenda tersebut berlangsung selama tiga pekan, mulai 20 November sampai 10 Desember 2026. Kehadiran pameran gratis memberi kesempatan lebih luas kepada masyarakat untuk menikmati karya para perupa sekaligus mengenal kembali sejarah perkembangan seni dan kebudayaan Jakarta. Bagi ekosistem seni, akses publik seperti ini juga penting karena mempertemukan karya dengan penonton yang lebih beragam. Kesimpulan Pameran seni Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki menjadi agenda menarik karena mempertemukan sejarah Jakarta dengan perspektif 35 perupa dari tiga kota. Melalui 100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta, publik tidak hanya diajak mengenang masa lalu. Pameran ini juga membuka pertanyaan tentang seperti apa Jakarta sebagai kota seni dan budaya di masa depan. Dengan dukungan ruang seperti TIM dan Paviliun Raden Saleh, ekosistem seni Jakarta memiliki peluang semakin terbuka bagi seniman lokal, nasional, hingga internasional. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Larry Jackson [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation 27 Perupa Indonesia di Jerman Siap Tampil di ARTe Kunstmesse 2026 Art & Bali 2026 Hadirkan Ratusan Seniman