0 0 Read Time:2 Minute, 10 Second Australia – Perlombaan menciptakan baterai yang lebih aman, murah dan tahan lama mendapat kandidat baru dari teknologi aqueous zinc-iodine battery (AZIB). Tim peneliti Flinders University berhasil meningkatkan performa baterai zinc-iodine dengan pendekatan kimia baru yang membantu mengatasi salah satu kelemahan utama teknologi tersebut: kestabilan iodine selama proses pengisian dan pelepasan energi. 60.000 Kali Isi-Ulang Angka paling mencolok berasal dari umur siklusnya. Dalam pengujian laboratorium, rancangan baterai tersebut dilaporkan mampu melewati lebih dari 60.000 siklus charge-discharge. Ini sangat menarik terutama untuk sistem penyimpanan energi yang harus melakukan siklus pengisian berulang setiap hari. Bayangkan alurnya: ISI DAYA → PAKAI → ISI LAGI → PAKAI LAGI → 60.000+ SIKLUS Isi Daya Sekitar 3 Menit Keunggulan berikutnya adalah kecepatannya. Prototipe laboratorium menunjukkan kemampuan pengisian sekitar tiga menit, membuka kemungkinan sistem penyimpanan energi yang dapat menerima dan melepaskan energi dengan cepat. Namun ada catatan penting: hasil tersebut masih berasal dari prototipe kecil di laboratorium, bukan baterai mobil atau smartphone siap jual. Jadi jangan membayangkan HP dengan baterai ini akan tersedia bulan depan. Menggunakan Air, Risiko Kebakaran Lebih Rendah Baterai lithium-ion menggunakan elektrolit organik yang dapat terbakar dalam kondisi tertentu. AZIB menggunakan elektrolit berbasis air. Karakter tersebut memberikan keuntungan keselamatan karena risiko kebakaran atau ledakan dapat dikurangi secara signifikan. Itu membuat teknologi ini menarik untuk instalasi penyimpanan energi berskala besar. Rahasianya Ada pada “Kandang Molekul” Salah satu inovasi penting penelitian tersebut adalah penggunaan struktur molekuler yang berfungsi seperti kandang untuk iodine. Iodine perlu tetap tersedia untuk menjalankan reaksi kimia baterai, tetapi perpindahan material yang tidak terkendali dapat menurunkan performa. Struktur baru membantu menahan iodine tanpa menghentikan reaksi yang dibutuhkan baterai. Sederhananya: ZINC + IODINE → MOLECULAR CAGE → REAKSI LEBIH STABIL → UMUR BATERAI MENINGKAT Bisa Cocok untuk Penyimpanan Energi Surya Aplikasi paling realistis saat ini bukan smartphone. Teknologi zinc-iodine berpotensi digunakan pada penyimpanan energi stasioner, misalnya untuk menyimpan listrik dari panel surya dan sumber energi terbarukan. Pada aplikasi seperti ini, keselamatan, harga material dan umur siklus sering kali lebih penting daripada membuat baterai sekecil mungkin. Belum Siap Menggantikan Lithium-Ion Angka 60.000 siklus dan 3 menit memang spektakuler, tetapi teknologi tersebut masih harus melewati tantangan besar sebelum dikomersialkan. Peneliti perlu membuktikan bahwa performa laboratorium dapat dipertahankan ketika ukuran baterai diperbesar. Tim kini bekerja dengan mitra industri menuju pengembangan prototipe skala lebih besar. Jika proses scale-up berhasil, teknologi ini berpotensi memberikan pilihan baru untuk penyimpanan energi: LEBIH AMAN → PENGISIAN CEPAT → UMUR PANJANG → MATERIAL LEBIH MUDAH DIPEROLEH Baterai masa depan ternyata mungkin tidak hanya ditentukan oleh siapa yang dapat menyimpan energi paling banyak—tetapi juga siapa yang dapat melakukannya puluhan ribu kali tanpa terbakar dan tanpa cepat rusak. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Larry Jackson [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation DNA Diubah Jadi Komponen Memori Komputer, Konsumsi Energinya Bisa 100 Kali Lebih Rendah Baterai Baru Bisa Diisi 3 Menit dan Tahan 60.000 Siklus, Lithium Mulai Punya Saingan?