0 0 Read Time:3 Minute, 9 Second JAKARTA — Teknologi telekomunikasi Indonesia memasuki babak baru. Protelindo menggandeng Combined Space Technology Limited (CST), perusahaan di balik teknologi World Mobile Stratospheric, untuk mengembangkan konektivitas berbasis stratosfer melalui platform SkyMast. Teknologi ini dirancang untuk memancarkan jaringan 4G dan 5G langsung ke ponsel standar dari ketinggian sekitar 60.000 kaki atau sekitar 18 kilometer. Kehadirannya ditujukan untuk membantu menjangkau wilayah Indonesia yang sulit mendapatkan akses jaringan melalui infrastruktur telekomunikasi konvensional. SkyMast Pancarkan 4G dan 5G dari Langit SkyMast merupakan teknologi High-Altitude Platform (HAP) yang beroperasi di lapisan stratosfer. Berbeda dengan menara seluler yang dibangun di darat, platform ini membawa sistem antena ke ketinggian tertentu untuk memancarkan jaringan ke wilayah di bawahnya. Menariknya, pengguna tidak membutuhkan parabola, terminal khusus, maupun aplikasi tambahan untuk menerima konektivitas. Sistem tersebut dirancang agar dapat terhubung langsung dengan perangkat seluler standar yang kompatibel. Satu Platform Bisa Menjangkau Area Luas Salah satu keunggulan yang ditawarkan SkyMast adalah cakupan wilayahnya. Platform stratosfer skala penuh yang dikembangkan World Mobile Stratospheric disebut dapat menjangkau area hingga sekitar 15.000 kilometer persegi dari satu platform. Teknologi ini juga dirancang menggunakan antena phased-array untuk mengarahkan sinyal secara lebih presisi. Dengan cakupan tersebut, teknologi ini berpotensi menjadi alternatif untuk wilayah yang pembangunan menara telekomunikasi daratnya sulit atau kurang ekonomis. Solusi untuk Indonesia sebagai Negara Kepulauan Indonesia memiliki kondisi geografis yang menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Ribuan pulau dan wilayah dengan akses infrastruktur terbatas membuat pembangunan jaringan membutuhkan biaya dan perencanaan yang besar. Karena itu, teknologi seperti SkyMast berpotensi membuka pendekatan baru. Jaringan tidak hanya dibangun dari darat, tetapi juga dapat memanfaatkan platform yang berada di udara untuk memperluas cakupan. Wilayah pedesaan, pulau terpencil, kawasan pertambangan, wilayah maritim, hingga lokasi yang membutuhkan jaringan darurat menjadi beberapa target penggunaan teknologi tersebut. Bisa Digunakan Saat Kondisi Darurat SkyMast juga memiliki potensi untuk mendukung komunikasi ketika terjadi bencana. Ketika menara telekomunikasi di darat mengalami kerusakan atau tidak dapat beroperasi, platform dari stratosfer dapat digunakan sebagai jaringan alternatif untuk membantu memulihkan komunikasi. Kemampuan tersebut menjadi penting karena komunikasi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam penanganan bencana dan kondisi darurat. Protelindo Pegang Hak Komersialisasi di Indonesia Melalui kerja sama dengan CST, Protelindo menjadi mitra tunggal yang memegang hak operasional dan komersialisasi teknologi SkyMast di Indonesia. Langkah tersebut memperluas bisnis Protelindo yang selama ini dikenal sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi berbasis menara dan jaringan fiber. Masuknya perusahaan ke teknologi konektivitas stratosfer menunjukkan bahwa industri telekomunikasi mulai mencari model baru untuk menghadapi kebutuhan konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau. Teknologi Masih Menuju Tahap Komersialisasi Meskipun menawarkan potensi besar, SkyMast belum menjadi layanan yang tersedia secara luas saat ini. Teknologi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan menuju komersialisasi. Berdasarkan roadmap World Mobile Stratospheric, demonstrasi teknologi 4G telah dilakukan sebelumnya, sementara pengembangan 5G dan antena phased-array terus dilanjutkan. Deployment pertama SkyMast ditargetkan pada 2027, sedangkan platform StratoMast skala penuh direncanakan memasuki tahap deployment komersial pada sekitar 2028 atau 2029. Masa Depan Internet dari Langit Kehadiran SkyMast memperlihatkan bahwa masa depan konektivitas tidak hanya bergantung pada menara di darat atau satelit. Teknologi stratosfer dapat menjadi salah satu pilihan tambahan untuk memperluas jaringan ke daerah yang memiliki tantangan geografis. Jika pengembangan dan komersialisasinya berjalan sesuai rencana, teknologi ini berpotensi membantu mempersempit kesenjangan digital di Indonesia. Kesimpulan SkyMast menjadi salah satu inovasi teknologi yang menarik perhatian karena menawarkan konsep 4G dan 5G langsung dari stratosfer ke ponsel. Dengan ketinggian operasi sekitar 60.000 kaki dan potensi cakupan hingga 15.000 kilometer persegi per platform, teknologi ini berpeluang membantu menyediakan konektivitas bagi wilayah terpencil, pulau-pulau sulit dijangkau, serta lokasi yang membutuhkan jaringan komunikasi darurat. Bagi Indonesia, inovasi tersebut membuka kemungkinan baru dalam membangun pemerataan akses internet. Jaringan telekomunikasi masa depan bukan hanya soal membangun lebih banyak menara, tetapi juga mencari cara baru untuk menghadirkan konektivitas ke tempat yang selama ini sulit terjangkau. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Larry Jackson [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Google Siapkan Investasi €13 Miliar untuk AI, Era Data Center Makin Besar Meta Luncurkan Muse, Agen AI yang Bisa Mengerjakan Tugas Pengguna