0 0 Read Time:3 Minute, 33 Second Teknologi AI Flood Eye tengah dikembangkan untuk membantu Kota Semarang menghadapi ancaman banjir dengan sistem prediksi berbasis kecerdasan buatan. Berbeda dari sistem peringatan dini biasa yang mendeteksi kejadian ketika banjir mulai berlangsung, Flood Eye dirancang untuk memperkirakan potensi banjir sebelum air mencapai kawasan terdampak. Riset ini merupakan kolaborasi Telkom University dan University of Wollongong Australia dengan dukungan program KONEKSI serta melibatkan BPBD Kota Semarang. Sistem tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Oktober 2026 sebelum dilakukan proses alih teknologi kepada Pemerintah Kota Semarang. Bagaimana AI Flood Eye Memprediksi Banjir? AI Flood Eye bekerja dengan menggabungkan berbagai data dari sensor yang ditempatkan di sepanjang sungai dan anak sungai. Sensor radar digunakan untuk mengukur tinggi muka air, rain gauge mencatat curah hujan, sementara kamera membantu memantau kondisi sungai secara visual. Data tersebut kemudian dipadukan dengan informasi mengenai kecepatan aliran, debit air, kondisi topografi, serta perubahan muka air secara real-time. Algoritma AI selanjutnya mengolah seluruh informasi tersebut untuk memperkirakan ketinggian dan potensi luasan banjir. Pendekatan ini menjadi penting karena kondisi hujan di Semarang dapat sangat berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Data lokal membantu sistem menghasilkan prediksi yang lebih sesuai dengan kondisi sungai dan lingkungan di sekitar lokasi pemantauan. Prediksi Banjir Bisa Beri Waktu untuk Evakuasi Salah satu keunggulan AI Flood Eye adalah kemampuannya memberikan informasi sebelum banjir terjadi. Dalam desain awal, sistem ditargetkan mampu memberikan prediksi sekitar 2–3 jam sebelumnya, meskipun kondisi geografis Semarang membuat waktu prediksi aktual dapat berbeda. Tambahan waktu tersebut sangat berharga bagi pemerintah dan masyarakat. Warga dapat mengamankan barang penting, mempersiapkan evakuasi, sementara pemerintah dapat mengatur logistik, lalu lintas, dan langkah mitigasi di wilayah yang berpotensi terdampak. Kebutuhan tersebut semakin penting karena aliran banjir dari wilayah selatan Semarang dapat bergerak cepat menuju kawasan yang lebih rendah. Dalam kondisi tertentu, aliran air bahkan disebut dapat mencapai kawasan bawah dalam waktu sekitar 35 menit. Enam Titik Jadi Tahap Awal Pemantauan Pada tahap awal, sistem Flood Eye direncanakan dipasang di enam titik sepanjang aliran Kali Babon, mulai dari Sikatak hingga Penggaron. Kawasan tersebut menjadi perhatian karena aliran sungai dapat meningkat ketika menerima debit air besar dari wilayah hulu saat curah hujan tinggi. Informasi yang dihasilkan nantinya dapat membantu BPBD menentukan wilayah mana yang berpotensi terdampak. Data tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menentukan tindakan yang lebih cepat sebelum kondisi banjir semakin parah. Bukan Sekadar Aplikasi, Tapi Alat Pengambil Keputusan Pengembangan Flood Eye tidak hanya berfokus pada teknologi. Peneliti juga melibatkan BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat agar sistem yang dibuat benar-benar dapat digunakan dalam kondisi lapangan. Informasi yang dihasilkan tidak hanya ditampilkan dalam bentuk dashboard. Tim juga mengembangkan penyampaian informasi yang lebih sederhana, seperti wilayah terdampak, perkiraan ketinggian air, luasan banjir, serta rekomendasi tindakan. Namun, informasi yang akan diteruskan kepada masyarakat tetap membutuhkan verifikasi pemerintah daerah. Dengan begitu, AI menjadi alat pendukung keputusan, bukan pengganti keputusan manusia. Teknologi AI Jadi Bagian dari Smart City Semarang Kehadiran Flood Eye juga melengkapi berbagai sistem pemantauan banjir yang sudah dimiliki Semarang. Pemerintah kota sebelumnya telah menggunakan berbagai layanan seperti Pantau Banjir, pemantauan muka air, Lapor Semar, dan Call Center 112. Pemerintah menilai keberhasilan teknologi tidak ditentukan oleh banyaknya aplikasi yang dimiliki. Yang lebih penting adalah apakah informasi dapat dipahami, diverifikasi, lalu diterjemahkan menjadi tindakan dengan cepat. Pendekatan tersebut memperlihatkan arah baru pengembangan smart city, ketika AI tidak hanya digunakan untuk layanan digital, tetapi juga membantu pemerintah menghadapi persoalan nyata seperti bencana alam. Flood Eye Ditargetkan Live Akhir Oktober 2026 Riset AI Flood Eye ditargetkan mulai live pada akhir Oktober 2026. Setelah sistem berjalan, tim peneliti akan melakukan alih teknologi kepada Pemerintah Kota Semarang, termasuk pelatihan, penguasaan teknologi, operasional, dan pemeliharaan sistem. Jika implementasinya berhasil, konsep tersebut berpotensi dikembangkan di daerah lain yang memiliki karakteristik banjir serupa. Meski begitu, penerapan di setiap wilayah harus menyesuaikan kondisi geografis, pola hujan, karakter sungai, serta kebutuhan masyarakat setempat. AI Buka Era Baru Mitigasi Banjir Pengembangan AI Flood Eye menunjukkan bagaimana teknologi dapat bergerak dari sekadar inovasi digital menjadi alat untuk menyelamatkan masyarakat. Dengan memanfaatkan sensor, data real-time, kamera, dan kecerdasan buatan, pemerintah memiliki peluang mendapatkan gambaran risiko banjir sebelum kejadian berkembang menjadi bencana besar. Bagi Semarang, teknologi ini menjadi tambahan penting dalam menghadapi ancaman banjir. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem memiliki data yang berkualitas, terus dipelihara, dan benar-benar terhubung dengan keputusan cepat di lapangan. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Larry Jackson [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Teknologi Digital Budaya Jadi Jalan Baru Pelestarian Warisan Nusantara Pusat Komputasi AI Indonesia Disiapkan hingga 1.000 MW